Pertama-tama perkenalkan nama saya Rian, saya asli lahir dan besar di kota Makassar tapi suku saya Tana Toraja. Tana Toraja adalah salah satu kabupaten yang lumayan besar di Sulawesi Selatan, kabupaten tersebut adalah salah satu kabupaten yang bisa dibilang merupakan unggulan dari Sulawesi Selatan, karena adat, budaya, tempat-tempat wisata nya yang unik, dan sekarang-sekarang ini adalah merupakan pencetak penyanyi-penyanyi yang berbakat untuk Provinsi Sulawesi Selatan.
Kisahku dimulai pada pertengahan bulan Januari tahun 2008 menuju ke Kalimantan Barat, tepatnya di kota Pontianak yang pada kala itu masih viralnya kasus "SAMPIT" yang beredar di dunia maya. Bagi yang masih asing dengan kasus "SAMPIT", disini saya menjelaskan sedikit yang saya tahu tentang kejadian tersebut.
Kejadian tersebut dimulai dari pertengkaran atau mungkin selisih paham dari dua kelompok/suku, yang dimana kubu/suku yang satu adalah suku pendatang yang mungkin sudah lumayan lama menetap di kota suku pribumi. Tidak ada yang tahu pasti awal mula salah paham atau perselisihan dari kedua kubu karena banyaknya versi dari masyarakat. Yang saya tahu pasti adalah perselisihan dua kubu tersebut sangat mengerikan, dimana-mana ada pembantaian dan mayat yang berserakan, sehingga ketakutan dan rasa was-was di kalangan masyarakat awam sangat tinggi, jangankan mau shoping, keluar rumah pun harus mikir berkali-kali.
Kira-kira jam 14.00 WIB, saat saya tiba di kota Pontianak, rasa was-was itu sangat kental terasa, pikiran melayang kemana-mana dan tidak beraturan/abstrak, tetapi rasa ingin tahu pun lebih tinggi.
Oleh sebab itu, untuk membuktikan rasa ingin tahu ku tersebut, sore hari nya pun saya memberanikan diri untuk ikut ajakan dari keluarga untuk jalan-jalan untuk melihat-lihat kota Pontianak.
Dengan pakaian yang lumayan rapi tapi sporty walaupun jet lag masih terasa, berangkatlah kami sekeluarga. Belum lama berangkat, ditengah jalan dua arah, ada dua motor yang saling bersenggolan. Pertama yang terlintas dalam pikiran ku adalah pembantaian dan pastinya akan ada darah berceceran dimana-mana. Kebetulan yang sangat membantu adalah macet, jadi saya pun bisa dengan saksama melihat dan mencermati kejadian tersebut dari awal sampai akhir. Ketakutan dan rasa ingin tahu ku pun terbayar, yang bersenggolan adalah motor dengan motor yang dikendarai oleh seorang anak muda yang bisa di bilang separuh baya dan yang satu nya adalah orang yang saya perkirakan berusia sekitar 50 an tahun. Dan yang hebatnya di kota yang saya bandingkan dengan video sampit yang viral dengan kejadian tersebut sangat berbanding terbalik dengan kejadian yang saya lihat dengan mata kepala sendiri. Yang terjadi sangat mengenakkan mata dan hati, perdamaian sangat kental, dan penyelesaian masalah yang sangat diluar dugaan. Cara penyelesaian masalah nya dengan percakapan yang ramah dan sopan tanpa satu pun kata kasar, dimana sangat tercermin jiwa ke-Pancasila an dan ke-Bhinneka Tunggal Ika an di antara sesama manusia tanpa membeda-bedakan suku, ras dan agama.
Waktu berlalu, pada awal bulan Februari, saya ditempat tugaskan di Kabupaten Melawi, Kecamatan Nanga Pinoh sebagai Tenaga Kontrak Daerah (TKD) di Dinas Kesehatan yang pada masa itu masih menempati dua buah ruko yang berdempetan sebagai kantor.
Pada pertengahan bulan Oktober tahun 2010, dibuka tes untuk masuk ke SatPol PP tapi tidak untuk umum, khusus hanya untuk TKD dan untuk menjadi TKD juga......Anehhh kan???Tapi yang lebih aneh tuh saya, karena mau ikut seleksi itu karena iming-iming prioritas pengangkatan menjadi Pegawai Negeri Sipil oleh Bupati pada saat itu, dan saya pun ikut tes dan lolos.
Waktu berjalan, masa/periode Bupati yang memberikan iming-iming itu sudah berakhir dan tidak ada pengangkatan sama sekali kecuali dari jalur K2 yang sampai sekarang masih diselidiki oleh Kepolisian karena banyaknya pemalsuan SK dari oknum-oknum yang sudah diangkat sebagai PNS, tetapi sekarang Kepolisian masih meminta Bupati yang sekarang menjabat agar membuat laporan supaya Kepolisian bisa menyelidiki lebih dalam, tetapi sampai sekarang saya belum tahu bagaimana proses yang sedang berjalan.
Karena tidak betah dan tidak sesuai dengan kemauan kerjaku di SatPol PP yang cuma piket-piket terus, oleh sebab itu saya menerima tawaran dari Inspektur Kabupaten Melawi yang menawari pindah ke kantor Inspektorat Kabupaten Melawi pada tahun 2016 sampai sekarang untuk menambah pengalaman kerja.
Cukup sekian dulu dari saya, trims.....